Pos oleh :

LM Psikologi UGM

Kampus Peduli, Mental Terkendali: Optimalisasi Fasilitas Kesehatan Mental Universitas

Isu kesehatan mental mahasiswa merupakan topik yang mendapat perhatian besar dalam dunia pendidikan. Kasus mahasiswa yang melakukan percobaan untuk mengakhiri hidupnya kerap diperbincangkan sehingga membuat berbagai pihak berempati dan bertanya-tanya terkait dinamika perkuliahan yang ditanggung mahasiswa. Menurut survei skrining kesehatan mental yang dilakukan oleh Forum Advokasi UGM pada 2023 yang melibatkan 854 mahasiswa/i UGM, 77 partisipan melaporkan memiliki pikiran untuk  melukai diri sendiri setiap hari dan bahwa lebih baik jika hidupnya berakhir. Selain itu, hasil survei juga mengungkapkan bahwa 15,2% mahasiswa/i UGM tergolong dalam kategori depresi berat. Limone dan Toto (2022) menemukan faktor-faktor predisposisi masalah mental mahasiswa yang mencakup faktor akademik, sosial, risiko psikologis, gaya hidup, dan fisiobiologis. Adapun menurut teori perkembangan Erikson, masa perkuliahan merupakan fase transisi menuju kedewasaan yang meliputi proses eksplorasi identitas personal (Stolberg, 2023). Sebagai suatu lingkungan perkembangan pada fase tersebut, fasilitas di perguruan tinggi untuk menyediakan dukungan psikologis bagi mahasiswa perlu disorot. read more

Geliat Nepotisme Tak Karuan, Demokrasi Dipertaruhkan

Pada tanggal 21 Agustus 2024, banyak unggahan berupa gambar burung garuda dengan latar biru dan tulisan “Peringatan Darurat” berseliweran di media sosial. Kok bisa, ya, rame banget? Unggahan “Peringatan Darurat” menjadi tanda amarah masyarakat terhadap upaya DPR untuk mengesahkan RUU Pilkada yang bertentangan dengan putusan MK. Tanda amarah tersebut sekaligus menjadi ajakan kepada masyarakat untuk peduli dan bersama-sama mengawal isu terkait. Banyak anggapan bahwa RUU Pilkada ini bertujuan untuk semata-mata menguntungkan kembali keluarga Presiden Jokowi. Pasalnya, kontroversi serupa juga mengelilingi isu pengangkatan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden. Peristiwa-peristiwa tersebut memperkuat pandangan masyarakat bahwa ada tanda-tanda praktik nepotisme yang sedang berlangsung. read more

Unleashing Your Inner Strength: Self-Compassion as the Key to Personal Transformation

oleh Nadya Marvella

Dalam dunia psikologi, terdapat sebuah konsep menarik yang berpotensi membuka pertumbuhan pribadi dan kesejahteraan: self-compassion. Self-compassion adalah tindakan kuat untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, pengertian, dan penerimaan saat mengalami momen-momen tersulit dalam hidup. Dengan mengenal self-compassion, kita dapat meningkatkan diri secara transformatif dengan berbagai manfaatnya  dalam diri (Andersson et al., 2022).

Di dalam diri kita terdapat self-compassion yang belum tergali, yang mencakup tiga elemen penting: bersikap baik pada diri sendiri, mengakui kemanusiaan, dan menumbuhkan mindfulness. Dengan mengetahui elemen self-compassion, kita mampu merawat diri dengan lembut dan pengertian, menggantikan kritik diri dengan self-care yang menyembuhkan semangat kita. Kita menyadari bahwa kita tidak berjuang sendirian, melainkan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang saling berkaitan. Melalui mindfulness, kita dapat memiliki rasa hadir sepenuhnya yang mampu meredam konflik batin dalam diri kita. read more