Predator Seksual di Balik Layar : Mengusut Ancaman Deepfake AI

Perkembangan teknologi akal imitasi (Artificial Intelligence) yang makin canggih kini menghadirkan fenomena baru di ruang digital. Di balik berbagai manfaatnya, teknologi ini juga mulai disalahgunakan untuk memanipulasi identitas seseorang, termasuk menciptakan konten seksual tanpa persetujuan korban. Adapun kasus penyalahgunaan AI tersebut terjadi di berbagai lapisan masyarakat. Pada kategori di bawah umur, seorang anak berusia 12 tahun menjadi korban pelecehan seksual digital setelah fotonya dimanipulasi menggunakan AI menjadi gambar tidak senonoh (Trikarinaputri, 2024). Sementara itu, di lingkungan pendidikan pada tahun 2025, mahasiswa Universitas Udayana berinisial SLKDP diduga menyalahgunakan teknologi AI untuk membuat konten deepfake bermuatan pornografi. Ia diduga mengambil foto perempuan dari media sosial dan mengubahnya menjadi gambar tanpa busana melalui bot Telegram. Tindakan tersebut diduga menyebabkan 35 mahasiswa menjadi korban. Tidak hanya terjadi pada anak-anak dan mahasiswa, penyalahgunaan teknologi AI juga menimpa figur publik, salah satunya Freya Jayawardhana, kapten personel JKT48, yang menjadi korban dugaan manipulasi foto berbasis AI pada rentang waktu 2022 hingga 2025. Read more

Who Am I if I Can’t Be Everybody’s Strong Girl?

Oleh: Michelle Stephanie

Pernahkah kamu merasa harus selalu terlihat baik-baik saja?

Menjadi teman yang selalu mendengarkan keluh kesah orang lain, menjadi anak yang tidak ingin menambah beban orang tua, atau menjadi perempuan yang dianggap paling kuat ketika keadaan sedang sulit. Lambat laun, peran tersebut melekat pada diri kita hingga muncul keyakinan bahwa menunjukkan kesedihan, kelelahan, atau meminta bantuan merupakan tanda kelemahan.

Banyak perempuan tumbuh dengan pujian seperti, “Kamu kan, kuat” atau “Kamu pasti bisa menghadapi ini.” Awalnya, pujian tersebut terdengar menyenangkan. Namun, seiring berjalannya waktu, pujian dapat berubah menjadi ekspektasi yang tidak terlihat. Kita merasa harus selalu kuat karena orang lain sudah mengenal kita sebagai sosok yang mampu menghadapi segala keadaan. Read more

Does Someone Who’s Unstable Deserve Love?

Oleh Alvina Nathaniela Nadyadhana

You have to heal yourself first before loving someone.” Kalimat tersebut sering kali kita dengar ketika membahas mengenai hubungan romantis dengan gaya kelekatan seseorang yang dianggap tidak secure dan beberapa orang mungkin menyetujui anggapan tersebut. Pandangan ini hadir karena adanya gaya kelekatan yang tidak secure, seperti anxious atau avoidant, yang kerap dilabeli sebagai kondisi mental yang tidak stabil sehingga membentuk stigma negatif terkait dengan gaya kelekatan tertentu (Girme dkk., 2018). Penelitian oleh Jackson dkk. pada 2026 menyatakan bahwa orang dengan gaya kelekatan anxious atau avoidant cenderung mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan romantis jangka panjang dengan orang lain karena gaya kelekatannya berpengaruh pada perilakunya yang cenderung neurotis. Namun, pengalaman traumatis yang membentuk kelekatan seseorang dikesampingkan sehingga orang-orang cenderung menganggap gaya kelekatan sebagai nilai pribadi seseorang. Read more