Who Am I if I Can’t Be Everybody’s Strong Girl?

Oleh: Michelle Stephanie

Pernahkah kamu merasa harus selalu terlihat baik-baik saja?

Menjadi teman yang selalu mendengarkan keluh kesah orang lain, menjadi anak yang tidak ingin menambah beban orang tua, atau menjadi perempuan yang dianggap paling kuat ketika keadaan sedang sulit. Lambat laun, peran tersebut melekat pada diri kita hingga muncul keyakinan bahwa menunjukkan kesedihan, kelelahan, atau meminta bantuan merupakan tanda kelemahan.

Banyak perempuan tumbuh dengan pujian seperti, “Kamu kan, kuat” atau “Kamu pasti bisa menghadapi ini.” Awalnya, pujian tersebut terdengar menyenangkan. Namun, seiring berjalannya waktu, pujian dapat berubah menjadi ekspektasi yang tidak terlihat. Kita merasa harus selalu kuat karena orang lain sudah mengenal kita sebagai sosok yang mampu menghadapi segala keadaan. Read more

Does Someone Who’s Unstable Deserve Love?

Oleh Alvina Nathaniela Nadyadhana

You have to heal yourself first before loving someone.” Kalimat tersebut sering kali kita dengar ketika membahas mengenai hubungan romantis dengan gaya kelekatan seseorang yang dianggap tidak secure dan beberapa orang mungkin menyetujui anggapan tersebut. Pandangan ini hadir karena adanya gaya kelekatan yang tidak secure, seperti anxious atau avoidant, yang kerap dilabeli sebagai kondisi mental yang tidak stabil sehingga membentuk stigma negatif terkait dengan gaya kelekatan tertentu (Girme dkk., 2018). Penelitian oleh Jackson dkk. pada 2026 menyatakan bahwa orang dengan gaya kelekatan anxious atau avoidant cenderung mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan romantis jangka panjang dengan orang lain karena gaya kelekatannya berpengaruh pada perilakunya yang cenderung neurotis. Namun, pengalaman traumatis yang membentuk kelekatan seseorang dikesampingkan sehingga orang-orang cenderung menganggap gaya kelekatan sebagai nilai pribadi seseorang. Read more

JOURNALING: MENGAKUI EMOSI, MENUANGKAN ISI HATI

Oleh: Putu Mahatma Satria Wibawa

Hidup adalah rangkaian perjalanan sepanjang hayat, mulai dari masa di dalam kandungan hingga kita meninggalkan dunia. Jika diibaratkan permainan puzzle, maka setiap keping kehidupan sangat layak untuk kita kenang dan ceritakan. Salah satu cara untuk  mengenang sekaligus menceritakan setiap kisah kehidupan kita adalah dengan menuliskannya. 

Menulis sebagai Sarana Terapi
Menulis, bagi sebagian orang, adalah suatu hobi tersendiri yang mengizinkan kita untuk berenang menyelami pemikiran dan perasaan kita terhadap suatu hal. Bentuk tulisan bisa bermacam-macam, salah satunya adalah dengan menulis jurnal harian atau yang biasa disebut  sebagai journaling. Journaling adalah pengalaman komunikasi, kesadaran pribadi, tempat untuk dituju ketika terluka, marah, atau bahagia, dan cara untuk menerima atau campur tangan dalam perilaku sendiri (Heinze, 1987). Journaling juga merupakan bentuk ekspresi diri tertulis yang terbukti banyak meningkatkan kualitas well-being secara biopsikososial (English & Gillen, 2001).  Read more