Artikel
oleh: Eunica Amanda Purnama
“We’re Bikini Kill, and we want revolution, girl-style now!”
Seru Kathleen Hanna dalam lagu Double Dare Ya karya Bikini Kill, band punk rock asal Amerika dan salah satu pelopor gerakan Riot Grrrl.
Punk dan rock sebagai sebuah budaya maupun genre musik telah lama didominasi oleh laki-laki sebagai aktor utamanya. Para bintang rock populer, musisi handal, dan band dengan nama besar dari skena ini diisi oleh barisan laki-laki yang namanya kita kenal hingga sekarang.
Namun, bagaimana dengan perempuan di balik lampu sorot panggung yang menyinar terang?
Di luar daftar nama musisi rock perempuan ternama yang dikenal oleh masyarakat luas, apakah skena ini benar-benar sudah terbuka dan menerima perempuan sebagai manusia dan seniman seutuhnya? Atau perempuan masih dipandang sebelah mata seperti sosok “pelengkap” saja?
Do you really feel seen and safe?
Perkembangan Musik Rock dan Punk
Musik rock berkembang pada tahun 1950-an, dipelopori oleh musisi seperti Chuck Berry dan Elvis Presley sebagai kombinasi dari berbagai genre, yaitu blues, jazz, country, dan lainnya. Fenomena rock ‘n’ roll berkembang pesat pada tahun 1960-an, mencerminkan gerakan counterculture yang berperan dalam mempertemukan budaya Afrika-Amerika dengan pemuda kulit putih (Mazzei & Michael, 2021). Pada masa tersebut, musik dan budaya rock menjadi pusat kontroversi akibat lirik berunsur pemberontakan, tema terkait gerakan antiperang, dan ekspresi politik. Seiring berjalannya waktu, lirik lagu-lagu rock makin berani dalam mengangkat isu sosial dan menantang norma masyarakat (Britton, 2019). Genre musik rock berkembang menjadi berbagai subgenre yang beragam sampai sekarang, seperti alternative rock, progressive rock, heavy metal, dan punk rock.
Berkembangnya musik punk pada pertengahan tahun 1970-an dipicu oleh respons terhadap industri musik rock arus utama yang makin diatur oleh korporasi. Band pelopor musik punk seperti Sex Pistols, The Ramones, dan The Clash menolak proses produksi musik yang terlalu kompleks dan memilih untuk menampilkan lagu berdurasi pendek, bertempo cepat, serta disertai lirik yang straightforward. Punk rock dicirikan dengan etos Do-It-Yourself (DIY), pemberontakan, dan mendobrak status quo (Walles, 2024). Subkultur punk yang berkembang di Inggris sendiri memiliki nama yang berasal dari frase “Public United Not Kingdom”, dengan arti kesatuan masyarakat di luar kerajaan (Hebdige, 1979). Punk sebagai sebuah gerakan dibentuk oleh pemuda kelas pekerja untuk mengkritik kapitalisme, melawan tatanan sosial mainstream, dan menantang budaya kelompok dominan (Wilujeng, 2017).
Diskriminasi Perempuan dalam Perkembangan Punk dan Rock yang Didominasi Laki-laki
Melansir dari laman Kajian Budaya Universitas Sanatha Dharma, berbagai bentuk kesenian didominasi oleh seniman laki-laki dengan budaya patriarki yang membuat peran dan suara perempuan dinomorduakan. Musisi atau vokalis perempuan sulit diterima dan dipandang sebagai seniman secara utuh dalam skena musik yang cenderung keras. Industri musik, terutama skena musik rock, telah didominasi oleh laki-laki sejak perkembangannya dimulai beberapa dekade yang lalu. Industry gatekeepers lebih mengutamakan laki-laki, sementara perempuan harus berjuang sendirian dalam membangun karir mereka (Schooley, 2025). Perempuan dalam skena musik rock kurang diberikan kesempatan yang setara untuk meraih kesuksesan dan peran mereka cenderung diremehkan. Situasi ini dilestarikan oleh adanya hegemoni patriarki dalam ranah musik sampai saat ini (Krueger, 2024).
Dominasi laki-laki juga terjadi dalam skena punk. Daugherty (2002) menjelaskan bahwa dominasi jumlah laki-laki dalam skena punk terlihat secara jelas pada gelombang pertama punk (first-wave punk) yang 60-70% anggotanya merupakan laki-laki. Dominasi maskulinitas juga terwujud melalui simbol, pola interaksi, gaya berperilaku, dan ekspektasi sosial dari sesama anggota skena itu sendiri (Daughtery 2002; Leblanc 1999; Murphy 2001; Rosenburg & Garofalo 1998 dalam Manion, 2007). Sayangnya, fenomena ini tidak berhenti pada dominasi laki-laki saja. Ideologi punk sebenarnya menyuarakan perjuangan atas kesetaraan dan egalitarianisme. Mirisnya, diskriminasi terhadap perempuan tetap nyata terjadi dalam skena ini.
Hegemoni patriarki dalam skena rock meminggirkan perempuan dari peluang, sumber daya, serta wadah ekspresi kreatif. Walaupun androgini telah menjadi bagian dari subgenre seperti glam rock, perempuan tetap tidak diberikan kewenangan yang sama (Krueger, 2024). Bahkan saat jumlah musisi rock perempuan makin banyak, sulit untuk menyatakan bahwa perempuan telah ditempatkan dan dipandang setara dengan laki-laki dalam lingkungan ini. Dalam skena punk, Manion (2007) menjelaskan bahwa laki-laki memegang kendali atas standar tentang perempuan punk mana yang layak dihormati dan tidak. Perempuan punk harus mengadopsi karakteristik dan perilaku maskulin demi mendapatkan pengakuan. Walau demikian, mereka tetap dituntut untuk memenuhi standar kecantikan mainstream dan hanya dipandang sebagai calon pasangan potensial bagi laki-laki dalam skena tersebut. Seksisme subtle yang terjadi dalam skena punk meliputi dominasi kontrol dan hypervaluation laki-laki, objektifikasi subjektif, hingga dikucilkannya perempuan dalam lingkungan tersebut. Sebagian besar studi budaya pun hanya membicarakan laki-laki, sedangkan perempuan hanya dibahas dari persepsi laki-laki dan sebagai objek seksual mereka (Huq, 2006).
Riot Grrrl: Resistensi Perempuan dalam Skena Punk-Rock
Kathleen Hanna juga kerap menggaungkan frase “girls to the front” dari atas panggung dengan maksud meminta para penonton laki-laki di konser mereka untuk memberi jalan bagi penonton perempuan agar bisa maju ke depan. Hal ini dilakukan sebagai salah satu cara Bikini Kill mewujudkan misi mereka, yaitu ‘memudahkan perempuan untuk melihat dan mendengar karya satu sama lain’. Latar belakang dari terbentuknya gerakan Riot Grrrl tercantum dalam “Riot Grrrl Manifesto” yang ditulis oleh Hanna dan dipublikasikan melalui sebuah fanzine Bikini Kill pada tahun 1991.
Banyak perempuan yang tertarik dengan ideologi punk karena ingin menantang stereotip feminin normatif yang mengekang perempuan untuk bersikap patuh, pasif, dan mengalah pada status quo gender (LeBlanc, 1999). Namun, terpinggirkannya perempuan dalam beberapa komunitas punk membuat mereka membentuk sebuah subkultur baru. Tercipta fenomena subkultur mikro dalam sebuah subkultur, yaitu komunitas perempuan punk yang berusaha melawan patriarki dan tuntutan femininitas normatif yang mengekang perempuan dalam skena punk mainstream (Muggleton, 2003 dalam Wilujeng, 2017).
Salah satu gerakan awal yang muncul sebagai bentuk resistensi perempuan atas diskriminasi yang dihadapi dalam skena punk-rock adalah Riot Grrrl, yaitu gerakan subkultur feminis muda yang memadukan feminisme dengan estetika, ideologi politik, dan gaya punk (Garrison, 2000). Riot Grrrl biasanya dikaitkan dengan kelompok feminis muda yang bergaya punk, tegas, membuat zine, memiliki band, membuat situs web dan acara radio, serta senang berkumpul membicarakan kehidupan sebagai perempuan dalam masyarakat kontemporer (Gilbert & Kile, 1996). Riot Grrrl menentang cara industri musik rock yang hanya melihat kontribusi perempuan dari sudut pandang seksual, seperti hanya menganggap mereka sebagai pelengkap, rock chicks, dan pemuas hasrat laki-laki (Wald, 1998).
SKENA YANG “MASKULIN”
“Di satu tongkrongan itu, ceweknya dikit banget. Mungkin sekitar satu, dua, termasuk aku. Aku biasanya mulai nanya, ‘mana? Kok nggak ada cewek-cewek lainnya, ya?’ Apa kegiatan di komunitas memang nggak terlalu menarik untuk teman-teman cewek? Atau karena lingkungannya nggak suportif juga?” Pramilla Deva menceritakan pengalamannya dalam film dokumenter Ini Scene Kami Juga! Situasi menoleh ke sana kemari dan berusaha untuk mencari teman perempuan tidak begitu asing bagi perempuan dalam skena punk-rock. Mencari ruang aman di tengah ketidakpastian, dominasi laki-laki dalam skena ini menjadi suatu hal yang selama ini dipandang sebagai hal yang sudah sepantasnya.
Maybe, this is indeed a man’s world. But why?
Pada dasarnya, lingkungan dan musik punk-rock begitu dekat dengan maskulinitas. Frith dan McRobbie (1978) menjelaskan bahwa terdapat berbagai ekspresi seksualitas yang eksplisit, kasar, dan penuh dominasi dalam musik rock. Penampil subgenre rock tertentu cenderung bersifat agresif, suka membanggakan diri, dan terus-menerus menarik perhatian penonton pada kehebatan dan kekuatan mereka. Dalam subgenre rock-metal, fantasi dari keahlian dan kontrol maskulin sering kali ditampilkan. Musik heavy metal dan rock kerap mengekspresikan kekuasaan pengendalian dan kebebasan yang transenden. Para musisi pun menggunakan hipermaskulinitas sebagai ekspresi visual (Walser, 1993).
Untuk menelusuri fenomena ini lebih lanjut, dilakukan wawancara dengan Ridha selaku vokalis dari band Bleeedrz asal Bantul guna memahami situasi secara kontekstual di Indonesia, terutama di Yogyakarta. Menurut Ridha, budaya patriarki yang masih awet dalam masyarakat Indonesia menjadi salah satu faktor yang menghambat penerimaan perempuan dalam berbagai sektor, termasuk skena musik rock. “Kita hidup di Indonesia, which kita masih agak erat sama patriarki. Masih tetap ada kaitannya sama itu. Kedua, banyak wanita yang belum berani, banyak yang mostly insecure,” ujar Ridha.
Lebih lanjut, Ridha menjelaskan bahwa lebih banyak perempuan dalam dunia musik yang memilih untuk menjadi solois dibanding tergabung dalam band. “Kalaupun mereka bisa, lebih dominan menjadi solois. Karena menjadi vokalis band itu, walau menurutku somehow itu sebuah kebanggaan, tapi aku masih takut. Karena masih ada rasa kayak ‘orang pick me’, karena kita minoritas.” Situasi perempuan sebagai minoritas dalam skena musik rock maupun dalam sebuah band dapat membuatnya merasa asing, tidak nyaman, atau takut dipandang sebagai “pick me”. Tidak hanya itu, pergaulan dalam skena rock yang lebih banyak aktif saat malam hari, kebiasaan minum alkohol, dan ideologi yang menentang budaya normatif menimbulkan tantangan tersendiri bagi perempuan untuk menjaga dirinya. Seperti yang dijelaskan oleh Ridha, “Kita tahu bahwa pergaulan di dalam skena musik rock, kehidupannya itu sampai malam, kayak hingar-bingar segala macam. Tentu saja lebih sulit untuk menjaga diri.”
Cara masyarakat memandang perempuan dalam skena musik rock pun turut memengaruhi dorongan bagi perempuan secara luas untuk masuk ke dalam dunia ini. Masyarakat masih memandang perempuan dalam band dengan pandangan negatif dan penuh rasa khawatir. “Ketika itu cewek band, orang tua pun pasti sudah worry. Secara sudut pandang aja masih 65% ke negatif. Kita selain minoritas, juga masih dalam proses approvement. Bahwa ini juga normal, kegiatan menjadi manusia,” ucap Ridha. Perempuan juga masih sering dipandang rendah dalam skena musik rock seperti yang dijelaskan oleh Ridha, “menjadi wanita di skena itu, ada dualitas. Yang pasti sering terdengar, pasti underestimated, ya.”
Ridha menjelaskan bahwa perempuan dalam skena rock yang pernah direndahkan bisa mengambil dua tipe sikap yang berbeda. Pertama, yaitu berani untuk membela dirinya, atau menjadi cenderung tidak peduli lagi dengan nasibnya. “Biasanya cewek-cewek yang sudah di industri ini, mereka antara berani sikap, atau berani untuk bodo amat. Karena kita kan wanita yang hidup di Indonesia, yang secara secara ekosistemnya masih mindset kesenjangannya,” ujar Ridha. Dalam film Ini Scene Kami Juga!, Mita turut mengekspresikan kekesalannya terhadap cara perempuan dipandang dalam skena musik punk-rock, “aku jujur paling benci kalau ngelihat cewek di scene-scene-an udah kayak, cuman hiasan pacarnya doang. Cuman kayak, ‘oh gue pacarnya si ini’ gitu. Dia gak bisa nunjukin sebenarnya dia itu siapa.”
MENGAPA PEREMPUAN MASIH TERPINGGIRKAN DI SKENA YANG “EGALITER”?
“Jargon-jargon yang ada di situ juga aku pertanyakan lagi. Kok orang ngomong equality-equality, ngomong setara-setara, tapi senioritasnya gila-gilaan, hierarkisnya gila-gilaan, seksisnya gila-gilaan. Apa yang didengar, apa yang dibaca, ternyata di realitas nggak begitu.”
(Mita, dalam Ini Scene Kami Juga!)
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, rock dan punk sebagai sebuah subkultur menentang norma sosial yang mainstream, serta menyuarakan perjuangan atas kesetaraan. Maka, diskriminasi yang masih dirasakan oleh perempuan dalam skena ini pun patut dipertanyakan. Mengapa sebuah subkultur yang seharusnya menganut egalitarianisme dan berangkat dari keresahan kaum marginal, turut melanggengkan terpinggirnya perempuan?
Salah satu fenomena yang dapat menjelaskan situasi ini adalah Fear of Missing Out (FOMO). Menurut Stefhan dan Rusdi (2026), budaya FOMO mendorong seseorang untuk mengikuti sebuah tren. Salah satu contohnya yaitu preferensi musik yang bisa mencerminkan identitas diri. Hal ini dapat memotivasi seseorang untuk turut mendengar dan mengikuti kultur sebuah genre musik untuk mendapat pengakuan tertentu. “Ketika kita sudah merasa diterima, somehow manusia itu agak lupa diri. Yang kita kejar sudah langkah lain, yaitu ‘keren’. Untuk mengejar ‘keren’ itu gambling. Kita mau tetap memperjuangkan suara yang minoritas, atau kita ngikutin yang ada nih, istilahnya FOMO,” jelas Ridha.
Lebih lanjut, Sharp dan Threadgold (2019) menjelaskan bahwa skena punk umumnya memiliki cita-cita menjadi gerakan yang menentang norma dan praktik masyarakat dominan. Hal tersebut merupakan salah satu daya tarik utama mereka bagi orang banyak. Namun, opresi sistemik tetap terjadi secara simbolik terhadap mereka dengan maskulinitas atau feminitas yang dianggap kurang ideal. Hubungan gender dalam lingkungan ini sarat akan unsur kekerasan simbolis. Komunitas punk yang biasanya didominasi oleh laki-laki heteroseksual, berkulit putih, dan cisgender memandang diri mereka sebagai pendukung perjuangan emansipatoris, tetapi nyatanya turut mempertahankan status quo. Di sisi lain, anggota perempuan perlu berjuang melawan seksisme sembari tetap mengalah dan mengkompromikan diri terhadap hierarki gender yang sulit diruntuhkan.
“Mereka banyak yang masih terpatri pada 1970, 1960. Padahal kita sudah hidup di 2026. Skena itu sudah tidak lagi mempertahankan hidup rock ‘n’ roll yang los. Masih ada segelintir orang yang, belum teredukasi untuk kesadaran-kesadaran seperti itu.” Ridha menyampaikan sebuah pendapat menarik mengenai alasan beberapa oknum dalam skena rock masih memandang perempuan dengan sebelah mata. Melansir dari BBC Music Magazine, skena rock dipenuhi oleh berbagai kontroversi dari para anggotanya pada tahun 1960 sampai 1980-an. Musik rock seringkali beriringan dengan popularitas penuh kontroversi yang diisi oleh budaya pemberontakan, narkoba, perilaku chaotic di atas panggung, serta pergaulan bebas. Hal tersebut kerap menarik perhatian media populer dalam membahas gaya hidup musisi rock legendaris. Namun, Ridha berpendapat bahwa gaya hidup demikian tidak seharusnya dilanggengkan hingga masa kini. Dengan edukasi atas kesetaraan gender yang sudah jauh meningkat, sangat disayangkan bahwa masih ada beberapa oknum yang belum menyadari perubahan gaya hidup dan nilai yang perlu dimengerti.
Diskriminasi terhadap perempuan dalam skena musik punk dan rock sangat disayangkan. Sebagai subkultur yang sarat akan latar belakang politikal dan berangkat dari keresahan akan norma masyarakat dominan, terpinggirkannya perempuan dalam skena ini menunjukkan adanya sebuah bentuk hipokrisi dari oknum anggotanya. Dalam Ini Scene Kami Juga!, Alda menyatakan keprihatinannya atas fenomena ini, “baru ada problem ketika orang-orang merasa mereka sudah jadi beda dari masyarakat yang represif. Sekadar karena mereka baca beberapa slogan, karena mereka pasang emblem-emblem slogan. Mereka nggak sadar kalau mereka juga sama represifnya.”
“Lebih menyebalkannya lagi karena orang-orang datang ke sini ngira kalau mereka datang ke tempat yang tidak akan represif dan tertipu total, karena ternyata orang-orangnya sama saja. Di scene punk yang ideal, sebenarnya apapun gender kamu, seksualitas kamu, itu menyenangkan. Refreshing lah, karena dia nawarin semacam oase dari masyarakat. Dia jadi semacam jebakan batman waktu dia pura-pura jadi oase, ternyata dia sama aja, dan lebih horrible karena mereka merasa udah beda.”
(Alda, dalam Ini Scene Kami Juga!)
Selain FOMO dan minimnya kesadaran akan perkembangan zaman, masih terdapat persaingan antara laki-laki dan perempuan yang sering kali tidak disadari. “Menurutku, di Indonesia masih ada ketakutan dari laki-laki untuk dikalahkan oleh wanita. Itu masih terlihat jelas, menurutku. Ketika wanita yang selangkah lebih maju, mereka sebetulnya tidak mau. Maunya laki-laki kalau bisa. Kalau kita lihat dari pemerintahan pun masih didominasi oleh laki-laki,” ujar Ridha. Dalam psikoanalisis, Karen Horney menjelaskan bahwa laki-laki memiliki rasa iri terhadap peran perempuan dalam menciptakan dan memelihara kehidupan melalui teori womb envy. Hal ini membuat laki-laki cenderung berusaha untuk mengeklaim dan menguasai bidang-bidang lain yang dapat menempatkan diri mereka pada posisi unggul. Penyebab misogini memang sulit untuk dijelaskan hanya dengan satu penyebab tunggal. Namun, konsep womb envy yang tersebar luas dalam berbagai budaya memunculkan kemungkinan bahwa hal tersebutlah yang berperan besar dalam melanggengkan misogini atau patriarki dalam masyarakat. Mekanisme pertahanan kompensasi dapat menjelaskan hubungan antara womb envy dengan produktivitas laki-laki di ranah publik (Bayne, 2011).
DISKRIMINASI TERHADAP PEREMPUAN DALAM SKENA PUNK-ROCK
Apakah kami, perempuan, hanya pelengkap?
“Pas aku nongkrong sama laki-laki, ternyata aku dengar POV mereka ketika memandang cewek mabuk, itu bisa ke mana aja. Sesuatu itu bisa tidak berjalan (baik) hanya karena satu langkah bodoh.”
(Ridha, dalam wawancara 10 Agustus 2026)
“Pertama masuk, saya ngerasa dianggapnya sekadar chicky-chicky. Chicky-chicky ini kalau buat cowo dianggapnya sekadar objek seksual dan selesai di situ. Udah. Objek seksual yang masih muda, masih naif, nggak tahu apa-apa, bisa dipake segala macam.”
(Alda, dalam Ini Scene Kami Juga!)
Perempuan dalam skena musik punk dan rock sering kali hanya dipandang sebagai objek seksual. Dalam lingkungan yang sangat maskulin ini, perempuan kerap diterima hanya sebagai “pemanis” atau komponen pelengkap dari anggota laki-laki lainnya. “Cuma kayak pemanis aja, gitu. Aku nggak suka kayak gitu sebenarnya. Ngerasa nggak nyaman. Kok di sini gua cuman dilihat karena gua cewe? Atau justru sebaliknya, gua nggak dipandang, dianggap remeh, dianggap nggak ada, karena gua cewe,” Mita dalam Ini Scene Kami Juga! menceritakan pengalamannya terkait hal ini. Ridha turut berpendapat, bahwa vokalis perempuan dalam skena rock jarang dipandang sebagai sumber informasi, tetapi keberadaannya sebagai perempuan seringkali menjadi pusat perhatian. “Menurutku, vokalis perempuan jarang menjadi center of information, tapi mostly menjadi center of attention. Kita harus nyari nyamannya, di attention tadi,” ucap Ridha. Menurut Donaghey (2020), budaya dan pola pikir patriarkis atau seksis menjadi akar dari masalah marginalisasi dan objektifikasi perempuan dalam skena punk. Hal ini kerap menjadi dasar terjadinya kekerasan seksual.
Pelecehan Seksual
“Sampai saya nangis, dulu pas acara di Saparua. Biasalah, pada pogo, moshing. Ada satu orang, saya nggak kenal dan nggak tau siapa. Dari belakang, megang sesuatu dari badan saya. Teman-teman tahu, mereka nyari orang itu dan ketemu. Sebelnya, dia minta maaf bukan ke saya, malah minta maaf ke anak-anak. Saya yang kena, kenapa minta maafnya ke anak-anak? Kayak nggak dianggap, kayak nggak dilihat.”
(Sheni, dalam Ini Scene Kami Juga!)
Budaya patriarki yang ada dalam masyarakat luas sayangnya meninggalkan jejak pada oknum tertentu, termanifestasi dalam barisan kasus pelecehan seksual yang terjadi di skena musik punk-rock. Salah satu bentuk yang sering ditemui adalah groping atau menyentuh tubuh orang lain yang bersifat seksual tanpa persetujuan orang tersebut, atau meraba dalam kegelapan saat target tidak dapat melihat. Dalam skena punk-rock, masalah ini sering terjadi saat moshing. “Waktu itu ada beberapa cewe yang datang, kita mau pogo di acaranya. Pada waktu itu, saya di-grab payudaranya. Sayangnya saya nggak tahu itu siapa, waktu itu kondisinya kan gelap. Saya sampai sekarang nggak pernah pogo gara-gara kejadian itu,” ujar Nurul dalam Ini Scene Kami Juga!. Ajeng Resista dalam dokumenter yang sama juga menceritakan pengalamannya, “waktu itu pengen dong, ikutan moshing. Tiba-tiba ada anak iseng, datang lalu meremas dada. Sampai sekarang, gua udah gak mau lagi moshing.”
Tidak hanya groping saat moshing, perilaku eksibisionisme atau memperlihatkan alat kelamin pada orang lain secara paksa atau tanpa persetujuan juga terjadi pada gigs atau acara-acara skena musik rock. “Ada salah satu showcase band, semua datang penuh sukacita. Kita pun cewek-ceweknya banyak. Udah fun, nice gitu. Ada yang – sering kok – anak yang bawa minum, ngasih-ngasih aja, begitu. Salah satu temanku mendapat sebuah pelecehan seksual. Oknum yang tadi (membawa dan memberikan minuman) ternyata dia buka celana, terus ngelihatin “itu”nya. Itu nggak cuma sekali, di dalam ada orang lain yang kena. Ternyata, minuman yang dia sodor-sodorin tadi, itu sudah digerus sama obat,” Ridha menceritakan salah satu pengalamannya. Perempuan dalam skena punk-rock berada dalam posisi yang rentan menjadi korban pelecehan seksual. Bentuk pelecehan seperti perilaku eksibisionis atau drink spiking merupakan hal yang tidak bisa diduga dan dapat terjadi kepada siapapun. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi perempuan dalam skena punk-rock. “Kita tuh memperjuangkan ini, loh. Kita cuma cewek-cewek yang mau datang ke gigs dengan aman dan nyaman. Tapi kenapa ada kayak gini?” ujar Ridha mengekspresikan kekecewaannya. Menurut Ridha sendiri, masyarakat sebenarnya sudah cukup sadar akan pentingnya menjaga perempuan di skena manapun. Namun, keberadaan oknum yang terus berulah bodoh sangat disayangkan olehnya.
Abuse of Power
Abuse of power atau penyalahgunaan kekuasaan sering kali menjadi celah bagi para oknum untuk memanfaatkan perempuan dalam skena rock yang masih dalam tahap merintis karir. “Pernah aku mau diajak kolaborasi. Aku udah ‘iya-iya’. Terus aku berhenti. Karena dia ngomong, ‘tapi kita take ininya di pantai, terus besok kita nginap dulu ya di penginapan’,” Ridha menceritakan pengalamannya. Melansir dari The Conversation, fenomena pelecehan seksual dan eksploitasi terhadap musisi, pekerja industri musik, maupun penggemar perempuan yang dilakukan oleh produser musik, petinggi perusahaan, atau musisi laki-laki bukanlah hal yang asing lagi. Tidak terbatas dalam skena musik punk atau rock, banyak musisi populer seperti Kesha dan Lady Gaga merupakan penyintas pelecehan seksual yang dilakukan oleh produser musik laki-laki. Dalam artikel yang sama, disampaikan bahwa 85% responden dari Musicians’ Union pernah mengalami pelecehan seksual karena takut kehilangan pekerjaannya. Hal ini menjelaskan betapa rentannya musisi perempuan muda yang harus bergantung pada orang lain, yang sering kali merupakan laki-laki dalam posisi berkuasa, untuk mencari nafkah. Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan dalam industri musik sangat berisiko untuk dieksploitasi (Hill, 2021).
“Di sini aku (orang) baru, aku cuma bawa, ‘aku punya skill ini’ segala macam. Itu yang seringkali dimanfaatkan oleh oknum. Orang picik yang seolah-olah merasa dia punya kekuasaan. ‘Aku bisa loh, bawa kamu ke sini, tapi kamu ‘ikut’ sama aku. Kan kamu pengen banget jadi ini’. Kayak, hell no.”
(Ridha, dalam wawancara 10 Agustus 2026)
Bagaimana perempuan menghadapinya?
“Opsinya dua. Dia jadi tegas banget, atau dia malah nge-los, kayak minum-minum gitu. ‘Ah, bodo amat lah, aku nanti jadi gimana.’ Itu akan berdampak di sosial media, yang baliknya ke dia sendiri. Misalnya, dia di story jadi suka nulis, ‘cowok tuh ternyata gini-gini,’ yang ngaruh balik ke perspektif orang terhadap dia.”
(Ridha, dalam wawancara 10 Agustus 2026)
Menurut Haber dan Runyon (1984), coping merupakan segala bentuk perilaku dan pikiran, baik negatif maupun positif, yang dapat mengurangi kondisi yang membebani seseorang agar tidak lagi menimbulkan stres. Dalam menghadapi diskriminasi, perempuan dalam skena punk-rock sering kali mengembangkan strategi confrontive coping (konfrontatif) atau escape avoidance coping (menghindarkan diri). Menurut teori coping milik Lazarus dan Folkman (1984) yang dijelaskan dalam Maryam (2017), strategi coping terbagi menjadi coping yang fokus pada masalah (problem-focused) dan fokus pada emosi (emotion-focused). Coping konfrontatif merupakan usaha untuk mengubah keadaan dengan cara yang agresif dan pengambilan risiko yang termasuk dalam problem-focused coping. Sementara itu, coping menghindarkan diri merupakan usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan menghindar dan melarikan diri, bahkan melibatkan diri dalam perbuatan negatif seperti tidur terlalu lama, minum obat-obatan terlarang, dan menghindar dari kehidupan sosial (Virgianto dkk., 2022; Maryam, 2017).
Beberapa perempuan yang bergerak di skena punk-rock mengembangkan strategi coping konfrontatif. Biasanya, mereka beradaptasi dengan lingkungan yang dianggap dapat mengancam mereka dengan bersikap lebih agresif dan berani angkat suara dalam menyatakan perasaannya. Seperti yang dijelaskan oleh Ridha, beberapa perempuan mengambil sikap tegas dalam menjaga dirinya maupun menghadapi orang lain selama berdinamika di skena punk-rock. Sikap ini dapat muncul sebagai hasil dari pengalaman buruk atau diskriminasi yang telah didapatkan sebelumnya. Keadaan yang ia rasa dapat mengancamnya sebagai bagian dari kelompok yang rentan di lingkungan ini dapat membuatnya merasa harus menangguhkan diri demi terhindar dari pengalaman buruk lainnya. Rasa muak akan bentuk-bentuk diskriminasi seperti dipandang rendah, diremehkan, atau diperlakukan secara tidak adil membuat mereka merasa harus menumbuhkan sikap ini agar dirinya tidak bisa direndahkan lagi.
Di sisi lain, beberapa perempuan lainnya memilih untuk menjauh dari masalah dan mengembangkan coping menghindarkan diri. Bahkan, coping ini dapat terwujud dalam sikap melarikan diri ke hal tertentu, seperti minum alkohol, berpesta, bersikap seperti tidak peduli, dan aktivitas lainnya yang kurang baik untuk seseorang. Rasa takut atau kecewa yang pernah dirasakan seseorang saat melakukan hal tertentu dapat mendorong mereka untuk melindungi diri dengan cara menjauh dan mencari pelarian. Perempuan yang pernah mengalami diskriminasi lalu mengembangkan jenis coping ini menjadi lebih ragu untuk melangkah di sebuah tempat yang tidak lagi terasa aman dan nyaman baginya. Ridha menjelaskan pandangannya mengenai fenomena ini, “Aku selalu, ‘ayo kita ke sini, nonton ini’. Dibalas, ‘tapi aku nanti takut ketemu-’ siapa gitu, segala macam. Aku bilang, ‘Kalau kita cuma kayak gini, kita nggak ke mana-mana. Yang rugi kita, bukan mereka.’ Banyak yang lebih takut bergerak karena overthinking. Takut kalau ke sana, ‘nanti aku nggak aman gimana?’ Karena dia pernah mengalami hal seperti ini.”
Diskriminasi terhadap perempuan dalam skena punk-rock terasa seperti sebuah belenggu.
Menjauh atau menghindar terasa seperti sebuah ketidakadilan, karena harus mengalah pada kesalahan orang lain yang tidak bisa mereka kontrol. Melawan dan membela diri dengan tegas pun kerap membuat mereka dipandang sebagai sosok yang agresif dan sulit dijangkau. Bagaimana pun cara mereka berusaha melindungi dirinya, masyarakat akan menemukan celah untuk memandang bahwa sikap mereka dalam menghadapi situasi tersebut merupakan cara yang kurang baik.
Terlalu penakut, atau terlalu agresif.
Daripada menyoroti sumber masalah atau alasan perempuan berperilaku demikian, beberapa pihak lebih memilih untuk menyalahkan cara perempuan melindungi dirinya dari diskriminasi yang dialami.
Skena yang awalnya penuh harapan atas penerimaan dan ekspresi diri autentik, lama-kelamaan terasa seperti sebuah jebakan yang dapat merugikan perempuan ke mana pun mereka melangkah.
“Akhirnya, ada perasaan kayak, ego itu pengen ngebuktiin. Gua juga bisa kok, ngelakuin hal yang sama kayak yang dilakuin sama temen cowo yang lain.”
(Mita, dalam Ini Scene Kami Juga!)
BERTAHAN? UNTUK APA?
“Ini hidupku yang sudah kupilih. Kalau aku milih ini, berarti aku senang dong sama ini. Dan kalau senang itu, suka-dukanya kan pasti dihadapi. Jadi, jawabannya karena aku senang, karena aku merasa ini passionku, di sini aku diterima. Gimana pahitnya? Namanya hidup, mau di mana aja, pekerjaan apa aja, nggak ada yang gampang. Tapi kita memilih yang paling bisa kita jalani seumur hidup.”
(Ridha, dalam wawancara 10 Agustus 2026)
Dengan segala kepahitan yang dapat atau pernah terjadi pada mereka, banyak perempuan masih memilih untuk bertahan di skena ini. Atas dasar rasa passion akan seni di dalamnya, maupun rasa cinta akan sisi terang dari lingkungan ini, mereka memilih untuk menghadapi dan menjalani kehidupan yang telah mereka pilih. “Spiritnya sih. Kita punya angan-angan, nantinya band itu akan dibawa ke mana. Orang biasanya underestimate ya, ini kayak cuman hobi, ‘emang bisa hidup dari situ?’ segala macam. Tapi kita dasarnya memang senang, fun, cinta dengan itu, sehingga kita mengusahakannya,” ujar Ridha menyampaikan hal yang disukainya dari skena ini. Ridha menjelaskan bahwa lingkungan ini memberikannya ruang untuk mengeksplorasi cara mengekspresikan dirinya secara menyenangkan. Baginya, skena yang tepat dapat mendorong seseorang untuk bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
MENCIPTAKAN RUANG AMAN DAN SETARA BAGI SEMUA
Masyarakat luas maupun skena punk-rock perlu meningkatkan kesadaran bahwa perempuan merupakan sesama manusia yang setara dengan gender lainnya. Hak, perhatian, dan kesempatan bagi seseorang untuk berkarya dan mengekspresikan dirinya tidak seharusnya menyempit hanya karena identitas gendernya. “Internalnya harus aware, ‘vokalis aku tuh penting, dia juga orang’. Kayak, tidak dilihat ‘pupuk bawang’ lah. Nggak dilihat cuma garnish doang. Jadi memang, kita harus show-nya lebih dari laki-laki,” ujar Ridha menjelaskan bahwa selain perempuan yang harus berusaha lebih keras dalam bertahan, orang-orang di sekitarnya pun perlu belajar menghargai mereka sebagai sesama manusia.
Ridha menekankan pentingnya dukungan dari sesama perempuan untuk menciptakan skena yang lebih nyaman, agar anggotanya dapat bergerak lebih leluasa tanpa rasa takut yang mengganggu. Menurut Ridha, keberanian untuk keluar dari zona nyaman, mengajak orang lain berbincang, membuka diri untuk bertanya pada orang lain, dan kemauan untuk mendengarkan orang lain merupakan sikap yang penting untuk dimiliki. “Kalau pas ada cewek-cewek, aku nggak takut kalau kita mau bergerombol. Aku mau lucu-lucuan, cewek-cewek aja. Mau dianggap nge-gerombol juga, biarin. Pokoknya keluar, ketemu, ketemu, ketemu. Nanti pas kamu sudah mulai kenal-kenalan, sudah tidak takut lagi datang ke festival sendiri atau band-band-an sendiri. Nggak se-menakutkan itu. At least kalau kamu dikenal dan teman-temanmu dikenal, sejujurnya sekarang kita tuh lebih ditakuti. Karena perempuan itu, kalau kita berani speak up, mati itu (oknum) laki-laki,” ucap Ridha. Kepedulian kolektif dari perempuan kepada sesama perempuan menjadi salah satu support system yang penting untuk dibangun dalam skena ini.
REVOLUTION, GIRL-STYLE NOW!
“Berani jadi diri sendiri itu penting, kamu harus show di situ kamu siapa. Kalau kamu vokalis, ya bawa musik kamu. Kamu yang kendaliin.”
(Ridha, dalam wawancara 10 Agustus 2026)
Atas dasar passion dan rasa cinta terhadap skena musik punk dan rock, perempuan didorong untuk berani menjadi dirinya sendiri dan mampu membela diri dengan kuat dalam menghadapi lingkungan yang penuh ketidakpastian. Menjadi perempuan di masyarakat yang masih kental akan misogini, terutama bergerak di bidang yang didominasi oleh maskulinitas, tentu bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Perempuan yang terus menekuni minat mereka dan mengejar mimpi di tengah berbagai masalah yang tak kunjung selesai patut mendapatkan pengakuan atas ketangguhan mereka.
Sudah selayaknya dan sepantasnya bahwa perempuan, dalam lingkungan manapun, mendapatkan hak dan kesempatan yang setara. Perempuan bukanlah komponen pelengkap, aksesoris, pemanis, atau objek yang dapat dimanfaatkan secara semena-mena oleh pihak manapun. Mereka berhak mendapatkan pengakuan, perhatian, dan sorotan yang setara untuk memiliki peran, mengambil keputusan, serta menaiki panggung yang sama besarnya tanpa dipandang sebelah mata dalam skena ini. Hegemoni patriarki tidak seharusnya dilestarikan, sedangkan keterbukaan terhadap perubahan dan keberagaman dalam skena perlu dijunjung tinggi demi mewujudkan kesetaraan bagi setiap orang yang mencari “rumah” di dalamnya.
“Antara pria dan wanita, kita itu sebetulnya sama, kok. Kita cuman pengen punya wadah yang nyaman buat kita berkarya.”
(Ridha, dalam wawancara 10 Agustus 2026)
Referensi
- ASCOLTACI #19 Beyond Metal; Melawan Patriarki melalui Musik Ekstrem. (2022, April 6). Kajian Budaya Universitas Sanatha Dharma. https://web.usd.ac.id/fakultas/pascasarjana/mirdb/deskripsi.php?id=berita&noid=629
- Bayne, E. (2011, March). Womb envy: The cause of misogyny and even male achievement?. In Women’s Studies International Forum (Vol. 34, No. 2, pp. 151-160). Pergamon. https://doi.org/10.1016/j.wsif.2011.01.007
- Britton, W. (2019). Rock ‘n’ Roll Music and Censorship. EBSCO Research Starters. https://www.ebsco.com/research-starters/music/rock-n-roll-music-and-censorship
- Daugherty, R. (2002). The spirit of’77: punk and the girl revolution. Women & Music, 27-37.
- Donaghey, J. (2021). Punk and feminism in Indonesia. Cultural Studies, 35(1), 136-161. https://doi.org/10.1080/09502386.2020.1844262
- Frith, S., & McRobbie, A. (1990). Rock and sexuality. In S. Frith & A. Goodwin (Eds.), On record: Rock, pop and the written word (pp. 371–389). Pantheon Books.
- Gilbert, L., & Kile, C. (1996). Surfergrrrls: look Ethel! an Internet guide for us!. Seal Press.
- Haber, A. & Runyon, R.P. (1984). Psychology of adjustment. Homewood, Illinois: TheDorsey Press.
- Hebdige, D. (1979). Subculture: The meaning of style. Methuen.
- Hill, R. L. (2021, September 16). Is sexual abuse and exploitation rife in the music industry?. The Conversation. https://theconversation.com/is-sexual-abuse-and-exploitation-rife-in-the-music-industry-167852
- Krueger, K. S. (2024). A Stage of Their Own: Hegemonic Patriarchy in the Rock and Roll Music Industry. University of Oregon
- Manion, D. M. (2007). Roles and attitudes of males and females in the anarchist punk community. https://doi.org/10.25772/6AVA-FJ44
- Maryam, S. (2017). Strategi coping: Teori dan sumberdayanya. Jurnal konseling andi matappa, 1(2), 101-107. https://doi.org/10.31100/jurkam.v1i2.12
- Mazzei, M. (2021). Rock n Roll. EBSCO Research Starters. https://www.ebsco.com/research-starters/music/rock-and-roll
- Schooley, E. (2025, September 2026). Breaking the Mold: Women Thriving in Male-Dominated Music. Guitar Thrills Magazine. https://www.guitarthrills.com/breaking-the-mold-women-thriving-in-male-dominated-music/
- Sharp, M., & Threadgold, S. (2020). Defiance labour and reflexive complicity: Illusio and gendered marginalisation in DIY punk scenes. The Sociological Review, 68(3), 606-622. https://doi.org/10.1177/0038026119875325
- Stefhan, Z., & Rusdi, F. (2026). Spotify Wrapped 2023: Pergeseran Perilaku dan Gaya Hidup Gen Z dalam Mengonsumsi Musik. Prologia, 10(1), 9-18. https://doi.org/10.24912/pr.v10i1.33214
- Virgianto, F. A., Pranida, J., Liana, M. A., Atmaja, M. Z. D., & Avezahra, M. H. (2022). Strategi coping stress pada mahasiswa yang mengikuti organisasi di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang. Jurnal Flourishing, 2(9), 625-633. https://doi.org/10.17977/um070v2i102022p663-671
- Walles, C. (2024, October 23). Punk Vs Rock: The Key Differences. Sounds Like Corey. https://soundslikecorey.com/punk-vs-rock/
- Walser, Robert. (1993). Running with the Devil: Power, Gender, and Madness in Heavy Metal Music. London: Wesleyan University Press.
- Wilujeng, P. R. (2017). Girls Punk: Gerakan Perlawanan Subkultur Di Bawah Dominasi Maskulinitas Punk. Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi, 1(1), 103-115.
- Wright, S. (n.d.). Sex, drugs, and the occult: rock’s 15 most notorious bands. Classical Music by BBC Music Magazine. https://www.classical-music.com/rock/notorious-bands
0 Comments