Oleh Siti Nurjanah

 

How could you make me believe

That there was something in between you and me, yeah?

I look around and I don’t see you

 

Apakah teman-teman pernah merasa relate dengan lirik di atas? Lirik dari lagu Shawn Mendes berjudul “Where Were You In The Morning?” seolah menggambarkan saat seseorang yang dekat dengan kita mendadak menghilang tanpa penjelasan. Tidak jarang, situasi seperti ini membuat kita bingung, marah, atau bahkan bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan diri kita sendiri. Fenomena yang kini dikenal sebagai ghosting ini sering kali meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab dan perasaan campur aduk.

 

Ghosting 101

Ghosting adalah cara mengakhiri hubungan dengan memutus seluruh bentuk komunikasi dan menghilang secara tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan (Freedman et al., 2019; Leckfor et al., 2023). Dalam dinamika ini, orang yang memilih menghilang disebut ghoster, sementara pihak yang ditinggalkan disebut ghostee. Fenomena ini makin mudah terjadi pada era digital karena teknologi memfasilitasi hilangnya kontak secara cepat dan tanpa konfrontasi langsung (Meenagh, 2015).

 

Lalu, kenapa seseorang melakukan ghosting?

Dari sisi psikologis, ghosting sering dikaitkan dengan avoidant attachment, di mana individu menarik diri karena kedekatan emosional menimbulkan kecemasan dan ketidaknyamanan (Bowlby, 1973;  Leckfor et al., 2023). Selain itu, keyakinan bahwa hubungan ditentukan oleh takdir (destiny beliefs) membuat sebagian orang lebih memilih menghentikan interaksi secara tiba-tiba dibanding melakukan upaya perbaikan (growth beliefs) (Freedman et al., 2019). Pengalaman sebelumnya juga berperan, menurut Teori Kognitif Sosial Bandura (1991), individu yang pernah melakukan ghosting lebih mungkin mengulang perilaku tersebut (Navarro et al., 2021).

Selain faktor psikologis dan pengalaman, perilaku ini juga dipengaruhi oleh konteks relasional dan situasional. Beberapa alasan muncul, misalnya hubungan dianggap tidak serius, bertemu orang lainnya di aplikasi kencan, atau menghindari konfrontasi setelah diperlakukan tidak hormat (LeFebvre et al., 2019; Halversen et al., 2022). Faktor internal lain seperti harga diri rendah dan kecenderungan depresi juga meningkatkan kemungkinan ghosting (Agarwal & Lu, 2020). Dengan demikian, ghosting dapat dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara disposisi pribadi, pengalaman sebelumnya, dan konteks hubungan.

Dinamika ini juga memengaruhi aspek emosional, para ghoster melaporkan mengalami kombinasi rasa bersalah dan lega, yang menandakan adanya konflik batin antara kebutuhan untuk melindungi diri sendiri dan perasaan bersalah karena menyakiti orang lain (Freedman et al., 2022). Hal ini menunjukkan bahwa ghosting bukan sekadar perilaku yang dipelajari, tetapi juga menimbulkan dilema emosional yang kompleks bagi pelakunya. Dengan kata lain, ghosting mencerminkan ketegangan antara kebutuhan pribadi dan tanggung jawab terhadap perasaan orang lain.

 

Why Does Ghosting Hurt So Much?

Bagi korban, ghosting merupakan bentuk ostracism atau pengucilan sosial yang mengancam kebutuhan psikologis dasar, yaitu keterhubungan, self-esteem, kendali, dan makna keberadaan (Williams, 2009; Leckfor et al., 2023). Tidak adanya penjelasan membuat ghostee mengalami ambiguous loss, yaitu kehilangan yang tidak jelas dan sulit diproses secara emosional (LeFebvre & Fan, 2020). Akibatnya, situasi ini dapat mengaktifkan korteks cingulate anterior dan insula, yaitu area otak yang berperan dalam merespons rasa sakit fisik maupun penolakan sosial sehingga ghostee merasakan sakit emosional yang intens dan berkepanjangan (Eisenberger, Lieberman, & Williams, 2003; Eisenberger & Lieberman, 2005).

Kebingungan komunikasi juga kerap muncul karena tidak ada kejelasan sehingga ghostee sering melakukan rumination atau memikirkan ulang pesan-pesan sebelumnya untuk mencari makna tersirat dalam interaksi yang telah terjadi (Freedman et al., 2022). Proses psikologis ini biasanya berkembang melalui tahapan kebingungan, kemarahan, penarikan diri, hingga akhirnya mencapai tahap penerimaan (Pancani et al., 2021). Selain itu, sebagian korban juga melakukan self-blame atas terputusnya relasi, bahkan sampai mempertanyakan apakah pesan, gaya berbicara, atau cara mereka mengekspresikan diri yang menjadi penyebabnya  (Daraj et al., 2024).

 

Stop Ghosting, Start Connecting

Penting untuk menyadari bahwa komunikasi interpersonal yang jujur, terbuka, dan etis adalah fondasi hubungan yang sehat. Coba sampaikan maksud, batasan, atau keputusanmu, supaya tidak meninggalkan kebingungan atau luka emosional pada orang lain. Luangkan waktu untuk refleksi diri, pahami attachment style, dan disposisi emosionalmu agar perilaku ghosting tidak terulang. Dengan cara ini, kamu tidak hanya memperbaiki hubungan dengan orang lain, tetapi juga membangun diri sendiri menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan sadar etika komunikasi (Laksana & Nurhaliza, 2023).

 

Ghosting Survival Guide untuk Ghostee

Ketika menghadapi ghosting, memberi label pada kejadian ini sebagai “ghosting” bisa membantu kamu memvalidasi rasa sakit dan kebingungan yang kamu rasakan (Brown, 2012). Jangan menunggu jawaban yang tidak akan datang, ambil alih closure dari dirimu sendiri dan fokuslah pada masa depan. Alihkan perhatian dengan kegiatan yang menyenangkan, seperti berolahraga, mendengarkan musik, mencoba hobi baru, atau menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga. Mulailah belajar lagi untuk percaya pada intuisi diri sendiri, dan buat batasan yang jelas saat berinteraksi dengan orang lain di masa depan (Cloud & Townsend, 2002). Tetaplah terbuka terhadap kesempatan baru dan ingatlah bahwa kamu layak memiliki hubungan yang sehat.

 

Referensi

  • Agarwal, N. K., & Lu, W. (2020). Response to non-response: How people react when their smartphone messages and calls are ignored. Proceedings of the Association for Information Science and Technology, 57(1), e260. https://doi.org/10.1002/pra2.260
  • Bandura, A. (1991). Social cognitive theory of self-regulation. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 248–287. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90022-L
  • Bowlby, J. (1973). Attachment and loss: Vol. 2. Separation: Anxiety and anger. New York, NY: Basic Books.
  • Brown, B. (2012). Daring greatly: How the courage to be vulnerable transforms the way we live, love, parent, and lead. Penguin Books.
  • Cloud, H., & Townsend, J. (2002). Boundaries. Zondervan.
  • Daraj, L. R., Buhejji, M. R., Perlmutter, G., Jahrami, H., & Seeman, M. V. (2024). Ghosting: Abandonment in the Digital Era. Encyclopedia, 4(1), 36-45. https://doi.org/10.3390/encyclopedia4010004
  • Eisenberger, N. I., Lieberman, M. D., & Williams, K. D. (2003). Does rejection hurt? An fMRI study of social exclusion. Science, 302(5643), 290–292. https://doi.org/10.1126/science.1089134
  • Eisenberger, N., & Lieberman, M. (2005). Why it hurts to be left out: The neurocognitive overlap between physical and social pain. In K. D. Williams (Ed.), The social outcast: Ostracism, social exclusion, rejection, & bullying (Sydney Symposium of Social Psychology).
  • Freedman, G., Powell, D. N., Le, B., & Williams, K. D. (2019). Ghosting and destiny: Implicit theories of relationships predict beliefs about ghosting. Journal of Social and Personal Relationships, 36(3), 905-924. https://doi.org/10.1177/0265407517748791 
  • Halversen, A., King, J., & Silva, L. (2021). Reciprocal self-disclosure and rejection strategies on bumble. Journal of Social and Personal Relationships, 39(5), 1324-1343. https://doi.org/10.1177/02654075211055759
  • Laksana, M. O., & Nurhaliza, N. (2023). The Impact of Communication Ethics on The Communication Quality in Interpersonal Relationships. Eduvest – Journal of Universal Studies, 3(5), 989–995. https://doi.org/10.59188/eduvest.v3i5.815
  • Leckfor, C. M., Wood, N. R., Slatcher, R. B., & Hales, A. H. (2023). From Close to Ghost: Examining the Relationship Between the Need for Closure, Intentions to Ghost, and Reactions to Being Ghosted. Journal of Social and Personal Relationships, 40(8), 2422-2444. https://doi.org/10.1177/02654075221149955 
  • LeFebvre, L. E., Allen, M., Rasner, R. D., Garstad, S., Wilms, A., & Parrish, C. (2019). Ghosting in emerging adults’ romantic relationships: The digital dissolution disappearance strategy. Imagination, Cognition and Personality, 39(2), 125–150. https://doi.org/10.1177/0276236618820519
  • LeFebvre, L., & Fan, X. (2020). Ghosted?: Navigating strategies for reducing uncertainty and implications surrounding ambiguous loss. Personal Relationships, 27. https://doi.org/10.1111/pere.12322
  • Meenagh, J. (2015). Flirting, dating, and breaking up within new media environments. Sex Education, 15(5), 458–471. https://doi.org/10.1080/14681811.2015.1033516
  • Navarro R., Larranaga E., Yubero S., Víllora B. (2021). Individual, interpersonal and relationship factors associated with ghosting intention and behaviors in adult relationships: Examining the associations over and above being a recipient of ghosting. Telematics and Informatics, 57(1), Article 101513. https://doi.org/10.1016/j.tele.2020.101513
  • Pancani, L., Mazzoni, D., Aureli, N., & Riva, P. (2021). Ghosting and orbiting: An analysis of victims’ experiences. Journal of Social and Personal Relationships, 38(7), 1987-2007. https://doi.org/10.1177/02654075211000417 
  • Thomas, J., & Dubar, R. (2021). Disappearing in the age of hypervisibility: Definition, context, and perceived psychological consequences of social media ghosting. Psychology of Popular Media, 10. https://doi.org/10.1037/ppm0000343
  • Williams, K. D. (2009). Ostracism: A temporal need-threat model. In M. P. Zanna (Ed.), Advances in experimental social psychology (Vol. 41, pp. 275–314). Elsevier Academic Press. https://doi.org/10.1016/S0065-2601(08)00406-1
Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *