oleh Putu Mahatma Satria Wibawa

 

Hari demi hari berganti, detik demi detik terlewati. Loncatan waktu semakin cepat dari hari ke hari. Ruang hanya tinggal bayang. Percakapan hanya meninggalkan kenang. Rutinitas tumbuh menjadi begitu monoton. Kehidupan berjalan tak ubahnya episode berulang yang terus menerus ditonton. Adakah waktu begitu cepat berlalu, sedemikian rupa, hingga kita nyaris tak lagi memahami apa makna kehidupan yang sebenarnya? 

Di suatu malam yang tentram dibasuh hujan, lampu belajar saya menerangi gelapnya ruang. Mata saya menari dalam mencermati kata demi kata yang terukir dalam lembaran halaman kekuningan buku lama di rak perpustakaan asrama saya. Aroma air hujan yang tercium dari celah-celah kecil di jendela berpadu dengan aroma buku yang entah kenapa membuat saya tenggelam dalam ketenangan. Ah, ketenangan. Betapa kata itu terlampau elit, mahal, dan langka dalam kehidupan saya sehari-harinya sebagai mahasiswa baru yang sibuk mempersiapkan bermacam hal yang membuat fokus saya selama dua minggu ke belakang teralihkan kepada hal-hal yang berada di luar diri saya.

Seekor kunang-kunang beterbangan, meneduh dari dinginnya udara di bawah engsel jendela. Kepakan sayapnya yang kecil ternyata berdampak besar dalam menambah nuansa kedamaian pada malam ini. Dari kepakkan sayapnya yang terang pulalah, saya membaca sebaris kalimat ini dalam sebuah novel yang sedang saya pegang, yakni, “…and the air was full of Thoughts and Things to say. But at time like these, only the Small Things are ever said. Big Things lurk unsaid inside.” (Arundhati Roy, 1997).

Hal-hal kecil, yang dimetaforakan oleh Arundhati Roy sebagai Dewa-Dewi yang bermanifestasi dalam kehidupan sehari-hari, ternyata adalah hal-hal yang begitu lekat dengan manusia. Dewa-Dewi yang tidak hanya dipuja sebatas di kuil-kuil besar atau beragam upacara, namun juga dari rumah, bahkan lebih dekat lagi, dilayani dari dalam hati.

Mensyukuri setiap rahmat Tuhan, seberapapun ukurannya, tetap adalah hal-hal yang besar. Terkadang kita lupa cara menghargai hal-hal yang kita anggap sederhana. Sesederhana masakan Ibu di pagi hari, sesederhana obrolan basa-basi di makan malam bersama keluarga dan teman-teman, sesederhana bangun pagi untuk melihat terbitnya fajar, sesederhana melakukan segala hal yang kita cintai, dan mencintai segala hal yang kita lakukan.

Sayangnya, kita baru menyadari betapa berharganya suatu hal ketika hal-hal tersebut telah pergi. Kita mendadak rindu pada gelak tawa keluarga ketika kita telah pergi merantau ke lain kota. Kita mendadak rindu pada obrolan basa-basi bersama kawan-kawan ketika kita telah menjadi asing saat memutuskan untuk fokus mengejar masing-masing impian. Kita mendadak rindu pada waktu tidur yang cukup ketika tidur adalah hal yang kita nanti-nantikan setelah lelah beraktivitas seharian. Betapa hal-hal kecil di sekitar kita sebenarnya tidak sekecil yang kita duga. Mendadak, waktu seperti membukakan kotak-kotak kejutan pada ledakan masa lalu, masa kini, hingga masa depan yang tak pasti.

Sungguh bijaksana jika Arundhati Roy mengingatkan kita semua terhadap pentingnya mensyukuri hal-hal yang ada di sekitar kita, mulai yang dari yang terdekat, yakni hati yang berkelimpahan cinta. Buku The God of Small Things karya beliau menyadarkan saya kembali tentang betapa berharganya hal-hal sederhana di sekitar kita. Hal-hal yang membuat kita hidup. Hal-hal yang membuat kita bersyukur untuk terlahir menjadi manusia, manusia yang memanusiakan manusia. Manusia yang memancarkan sinar kebajikan bagi lingkungan di sekitarnya.

Belakangan ini, sebuah kutipan tengah populer  menjadi kalimat caption dalam sebuah postingan di media sosial. Kutipan tersebut adalah Almost Forgot this is The Whole Point. Lama-kelamaan kutipan ini menjelma menjadi sebuah tren baru di masyarakat untuk mengunggah hal-hal yang dianggap sederhana dalam rutinitas kesehariannya menjadi suatu hal yang disyukuri dengan penuh kesadaran (consciousness-gratefully).

Bnyak pemikir hebat telah merumuskan cara membangkitkan kesadaran sejati dalam diri. Dalam bukunya yang berjudul Inner Engineering, Sadhguru pernah membawakan pelita pencerahan bagi para pembaca dengan menuliskan kalimat, every moment there are a million miracles happening around you: a flower blossoming, a bird tweeting, a bee humming, a raindrop falling, a snowflake wafting along the clear evening air. There is magic everywhere. If you learn how to live it, life is nothing short of a daily miracle (Sadhguru, 2016).

Coba bayangkan, dalam satu tarikan napas, berapa banyak keajaiban hadir di sekitar kita tanpa kita sadari? Betapa berharganya suatu hal dalam hidup apabila kita mampu melibatkan seluruh panca indra yang kita miliki dengan kepekaan? Merasakan rumput-rumput halus menggelitik telapak kaki kita, mendengarkan lagu-lagu yang kita sukai di waktu lenggang, mengecap rasa makanan yang kita idam-idamkan sedari dulu kini telah hadir di depan kita, menghirup aroma buku baru, membiarkan buliran keringat membanjiri pelipis setelah lari pagi mengelilingi taman kota. Apakah kebahagiaan begitu jauh, jika dengan hal-hal kecil terdekat di sekitar saja terasa lebih dari cukup untuk mengisi kekosongan hati dengan hal-hal yang menyejukkan jiwa? Apakah kebahagian harus dikejar secepat mungkin, jika dengan meluangkan sedikit ruang dan waktu untuk melakukan segala yang kita cintai sudah cukup? Sudahkah kita bersyukur atas segala nikmat iman yang Tuhan berikan kepada kita setiap detiknya?

 

Referensi

Arundhati Roy. 1997. The God of Small Things. London: Penerbit HarperCollins.

Sadhguru. 2016. Inner Engineering. New York: Penerbit Pnguin Random House.

Haemin Sunim. 2017. The Things You Can See Only When You Slow Down: How to Be Calm in a Busy World. New York: Penerbit Penguin Life.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *