Merdeka Belajar di Psikologi: Realisasi Kebijakan MBKM di Fakultas Psikologi UGM

Latar Belakang 

Pada April 2021, Nadiem Makarim dilantik menjadi Mendikbud-Ristek RI (Kompas.com, 28/4/2021) setelah sebelumnya dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019 lalu (Kompas.com, 23/10/19). Salah satu terobosan besar yang beliau lakukan adalah program Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Merdeka Belajar Kampus Merdeka, atau yang biasa disingkat MBKM merupakan sebuah kebijakan yang dimaksudkan untuk mendorong mahasiswa agar menguasai tidak hanya disiplin ilmu yang dipelajarinya di universitas, tetapi juga berbagai bidang ilmu dan keterampilan melalui experiental learning. Hal ini disinyalir akan berguna saat mahasiswa memasuki dunia kerja dan pengembangan karakter. Dalam kebijakan ini, dilansir dari Buku Panduan Penyelenggaraan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, mahasiswa memiliki kesempatan hingga dua puluh SKS untuk menempuh pembelajaran di luar program studi pada perguruan tinggi yang sama, dan kesempatan hingga empat puluh SKS untuk menempuh pembelajaran di luar perguruan tingginya. Dalam Fakultas Psikologi UGM, kebijakan ini telah diterapkan pada angkatan 2020, yang resmi menjadi mahasiswa pada pertengahan 2020 lalu, yang artinya kebijakan ini telah berjalan selama kurang lebih satu tahun.  Read more

Glorifying Mental Illness: Perihal Estetik atau Masalah Pelik?

Prolog 

Kesehatan mental merupakan salah satu topik yang mulai gencar dibahas di media sosial masa kini. Masyarakat mulai memahami bahwa kesehatan mental memang berperan besar dalam kehidupan seseorang dan sama pentingnya dengan kesehatan jasmani. Besarnya keingintahuan masyarakat terkait informasi mengenai kesehatan mental mendorong mereka untuk saling berbagi mengenai pengetahuannya tentang hal tersebut, mulai dari ciri mental yang sehat, cara mengembangkan perilaku sehat mental, hingga macam-macam gangguan mental. Namun, yang luput dari baiknya penyebaran informasi terkait kesehatan mental ini adalah informasi yang kredibel serta cara penyampaian yang tepat. Padahal, faktor penyampaian ini sangat penting agar makna yang ingin diberikan tepat sasaran.  Read more

Payung Hukum Untuk Psikologi: Penting Atau Tidak?

Latar Belakang

Pada 2020 silam, publik sempat ramai terkait kasus perseteruan antara seorang praktisi psikologi, Dedy Susanto (DS), dan seorang selebgram, Revina. Revina melaporkan DS ke polisi atas dugaan tindakan penipuan sebagai psikolog gadungan dan pelecehan seksual terhadap para kliennya saat melakukan praktik. DS diduga melakukan praktik Psikologi di luar kewenangannya sebagai Doktor Psikologi. Hal ini tentu melanggar Kode Etik Psikologi Indonesia, yang menyatakan bahwa DS, meskipun memiliki gelar Doktor Psikologi, termasuk ilmuwan Psikologi dan tidak boleh melakukan praktik Psikologi (Fahmi, 2020). Akan tetapi, meskipun tindakannya dianggap tidak etis oleh banyak profesional kesehatan mental, apa yang dilakukannya tidak dapat disalahkan atau dituntut karena belum adanya payung hukum yang mengatur tentang hal tersebut. Read more