Oleh Sravanya Maritza Maharashtra

 

Pernahkah kamu merasa terjebak dan cemas dalam hubungan yang tidak terikat atau mungkin kamu temui diri kamu mempertanyakan tujuan hubungan yang sedang kamu jalani, yang seringkali bersembunyi di balik kata-kata “mengikuti arus saja”? Di era digital saat ini, cakupan romansa remaja modern telah berkembang pesat. Tidak hanya mencakup hubungan “pacaran” tradisional, romansa remaja modern kini mencakup gaya hubungan yang sebenarnya bukan hubungan. Tunggu, hah?

Situationships” atau “hubungan tanpa status” merupakan fase hubungan sebelum berpacaran yang melampaui garis platonis (Hsieh, 2021). Fase ini ditandai dengan adanya perasaan romantis dan afeksi namun tanpa label atau kejelasan status (Langlais, 2024). Hubungan unik ini mencerminkan ambiguitas dan tingkat komitmen yang rendah meski rasa keinginan untuk bersama umumnya cukup kuat. Jenis hubungan ini sering ditemukan di kalangan remaja.

Nah, berbeda dengan hubungan tradisional, situationships seringkali kurang memiliki kesepakatan atau pembicaraan mengenai ekspektasi dan “status” (Ardelean, 2022). Situationships sering kali terbentuk secara tidak sengaja atau tanpa sepengetahuan dari kedua pihak yang terlibat yang tentu saja dapat menyebabkan banyak kesalahpahaman. Lalu, jika memang hubungan tanpa status begitu rumit dan menyulitkan, mengapa gaya romansa ini begitu populer di kalangan remaja saat ini?

Ada beberapa faktor di balik prevalensi situationships di kalangan remaja. Faktor pertama dapat dijelaskan dari pandangan Baumeister dan Leary (2017) yang menyimpulkan bahwa manusia, termasuk remaja, membentuk hubungan romantis agar dapat memenuhi kebutuhan untuk afeksi dan kasih sayang. Teori Triangular Love Sternberg (1986) juga menjelaskan berbagai jenis pendekatan terhadap sebuah hubungan berdasarkan tiga variabel: kedekatan, gairah, dan komitmen yang dapat berganti berdasarkan jenis hubungan. Jika dibandingkan dengan gaya hubungan romansa pada umumnya, hubungan tanpa status bersifat tinggi akan gairah dan kedekatan tetapi rendah akan komitmen (Langlais, 2022).

Teori Sternberg memberikan kerangka untuk eksplorasi diri dan hubungan romantis yang merupakan bagian penting dari perkembangan remaja karena mereka memiliki kebutuhan yang kuat untuk membuktikan diri mereka sendiri. Karena sifat remaja yang labil, masuk akal bagi fenomena gaya hubungan tanpa status untuk menjadi suatu hal yang cukup populer. Gaya hubungan ini memungkinkan remaja untuk menavigasi minat romantis dan menikmati afeksi dan intimasi yang dapat diberikan oleh hubungan berpacaran pada umumnya tanpa beban berkomitmen (Levine, 2019).

Selain itu, teori Attachment Style oleh Ainsworth (1978) menekankan peran attachment masa kecil dalam mempengaruhi jenis hubungan yang dicari oleh seseorang. Remaja dengan gaya attachment yang insecure yang disebabkan oleh hubungan tidak stabil dengan pengasuh pada masa kecil lebih cenderung terlibat dalam situationships dengan komitmen rendah sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan kasih sayang tanpa ketakutan akan rejection atau abandonment yang mungkin akan mereka dapatkan dalam sebuah hubungan berstatus (Ardelean, 2022).

Maraknya komunikasi digital saat ini pun ikut serta membantu mempopulerkan hubungan tanpa status. Forum daring memungkinkan penggunanya untuk terlibat dalam hubungan yang ambigu dan low maintenance karena kerap terhalang oleh jarak atau long distance relationships (LDR).

Apakah hubungan tanpa status adalah sebuah hal yang buruk? Tentu tidak sesederhana itu. Namun, prevalensi situationships mendatangkan pertanyaan penting akan dampaknya terhadap pola perkembangan pada remaja. Teori Sternberg menekankan dampak emosional positif yang diperoleh melalui hubungan romantis yang sehat. Seseorang yang terus-terusan terlibat dalam hubungan tidak berstatus dapat kesulitan membangun kedekatan dan kepercayaan dengan orang lain yang dibutuhkan dalam sebuah hubungan sehat. Hal ini selaras dengan Attachment Theory Ainsworth yang menjelaskan bahwa insecure attachment akan sulit dihilangkan dan hanya akan terus mengganggu hingga dewasa jika dibiarkan begitu saja.

Selain itu, minimnya komunikasi dalam hubungan tanpa status dapat menyebabkan stres dan kecemasan berlebih. Dengan begitu, suatu hubungan tanpa status perlahan-lahan dapat berkembang menjadi hubungan yang toxic karena kedua belah pihak berpotensi mengalami kegelisahan emosional juga meragukan segala sesuatu dalam hubungan tersebut tanpa adanya kemauan untuk saling menjelaskan (Ardelean, 2022).

Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk mencegah dan mengurangi dampak negatif dari situationships? Intervensi dan dukungan dari orang tua dan pihak pendidik mengenai cara-cara menavigasi hubungan romantis yang sehat sangat penting karena terkadang hal-hal yang tampaknya kecil seperti cara berkomunikasi, kepercayaan, dan komitmen bukanlah suatu hal yang dapat langsung dimengerti oleh semua orang. Individu, terutama yang memiliki attachment style yang insecure, dianjurkan untuk menghindari situationships atau setidaknya mengidentifikasi cara untuk memberi label atau bentuk eksklusivitas dalam hubungan tersebut. Sifat eksklusivitas dapat membantu mengurangi stres berlebihan dan memberikan harapan bahwa  hubungan tersebut dapat bertransisi menjadi hubungan berkomitmen jelas (Langlais, 2022). Penting untuk menjalankan komunikasi sehat sebelum memutuskan untuk melibatkan diri dalam sebuah hubungan tanpa status agar mencegah kesalahpahaman dan memastikan kejelasan bagi semua pihak yang terlibat.

 

Referensi: 

Ainsworth, M. D. S. (1978). The Bowlby-Ainsworth attachment theory. Behavioral and Brain Sciences, 1(3), 436–438. https://doi.org/10.1017/s0140525x00075828 

Ardelean, A. (2022). Examining attachment style in hookup culture: The societal normalization of trauma-based partner selection. UBC Library Open Collections. https://doi.org/10.14288/1.0418457 

Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (2017). The need to belong: desire for interpersonal attachments as a fundamental human motivation. In Routledge eBooks (pp. 57–89). https://doi.org/10.4324/9781351153683-3 

Hsieh, C., & Beck, L. (2021, November 1). How do you tell if you’re in a situationship? Cosmopolitan. https://www.cosmopolitan.com/sex-love/a26397512/situationship-dating-definition/ 

Langlais, M. R., Podberesky, A., Toohey, L., & Lee, C. T. (2024). Defining and describing situationships: An exploratory investigation. Sexuality & Culture. https://doi.org/10.1007/s12119-024-10210-6 

Levine, A., & Heller, R. (2010). Attached. Penguin.

Sternberg, R. J. (1986). A triangular theory of love. Psychological Review, 93(2), 119–135. https://doi.org/10.1037/0033-295x.93.2.119 

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published.