Why Is It So Hard to Say “No”?: The Psychology Behind People-Pleasers

Oleh: Natasha Keira Ayu

Apakah kamu pernah melakukan sesuatu hanya agar tidak mengecewakan orang lain? Apakah kamu sering merasa sungkan saat ingin menolak permintaan orang lain? Atau merasa keputusan yang kamu buat dipengaruhi oleh keinginan untuk menyenangkan orang lain? Jika iya, berarti kamu mungkin memiliki kecenderungan people pleasing. Menurut Cambridge Dictionary, people pleaser merupakan seseorang yang sangat peduli untuk disukai oleh orang lain dan selalu ingin orang lain menyetujui tindakannya. Keinginan untuk dipandang positif oleh orang lain merupakan hal yang wajar, tetapi untuk sebagian orang, keinginan ini datang dengan harga yang mahal: pengorbanan diri yang berlebihan. Jika terus dilakukan, hal ini justru bisa menimbulkan dampak negatif pada kesejahteraan mental seseorang. Read more

Katanya Agamis, kok, Diskriminatif?

Oleh Daveisha Kirana

Temen-temen pernah gak, sih, ketemu sekelompok orang yang mengeklaim diri mereka “religius”, tetapi cara mereka bersikap terhadap orang lain justru kontradiktif dengan nilai-nilai agama? Bukannya saling mengasihi, mereka justru paling sigap perihal menindas dan menghakimi … Kira-kira kenapa, ya, hal ini bisa terjadi? 

Orientasi Religiusitas? Apaan, tuh?

Allport (1950) memperkenalkan sebuah konsep bernamakan orientasi religiusitas melalui karyanya yang berjudul “The Individual and His Religion”. Orientasi ini  mengacu pada pandangan individu mengenai peran agama dalam kehidupan yang dapat memengaruhi mereka dalam mempraktikkan nilai-nilai agamanya (Paloutzian, 1996). Allport membagi orientasi religiusitas dalam dua dimensi, yaitu ekstrinsik dan intrinsik.  “Religion as means” merupakan bentuk pemahaman dari individu dengan orientasi ekstrinsik. Artinya, agama digunakan sebagai alat untuk menunjang motif, seperti status, harga diri, penerimaan sosial, dan pembenaran diri (Allport dan Ross, 1967). Di satu sisi, penghayatan agama pada individu dengan orientasi intrinsik tercerminkan melalui pemahaman “religion as an end”. Pada level ini, individu berusaha memaknai nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam kehidupan yang tertuang melalui terciptanya keselarasan antara keyakinan dan perilaku (Barret dkk., 2004).  Read more

Do I Actually Like Him or Just the Idea of Him?

Oleh Nasywa Rahmania Nissa

Pernah gak, sih, berada di situasi yang mempertanyakan perasaan teman-teman terhadap seseorang? Bingung alasan sukanya karena pribadi mereka atau karena persepsi personal atas diri mereka? Kalau dipikir lagi, sebetulnya mereka gak memenuhi kriteria ideal yang kita cari dari seseorang, tetapi kenapa ya mereka terlihat menarik?

 

Apa sih ketertarikan dan kenapa kita tertarik dengan seseorang?

Ketertarikan adalah suatu emosi yang dapat memengaruhi respons fisiologis, kognitif, dan perilaku seseorang dalam sebuah hubungan interpersonal (Montoya & Horton, 2020). Sementara itu, ketertarikan interpersonal atau disebut juga perasaan suka umumnya terwujud dalam penilaian positif yang konsisten pada orang tertentu (Montoya & Horton, 2020). Menurut Arthur Aron, salah satu pengaruh internal dari ketertarikan adalah “self-expansion” atau keinginan untuk terikat dengan individu lain demi memperluas pengalaman dalam hidup (Aronson et al., 2019, pp. 296–327).  Read more